Bisa Jadi Achilles adalah Kita Sendiri

Bisa Jadi Achilles adalah Kita Sendiri

Ahmad Zainul Hamdi (Kepala Pusat Strategi Kebijakan Pendidikan Agama dan Keagamaan)

Kalau kita nonton film Troy (2004), kita akan melihat bagaimana Achilles (diperankan Brad Pitt) membunuh Hector (diperankan Eric Bana). Bagian terbunuhnya Hector, sang Pangeran Troya, adalah bagian yang sangat memilukan. Priam,  Raja Troya, ayah Hector, mempertaruhkan nyawanya, keluar istana sendirian di malam hari, menyelinap ke tenda Achilles untuk menemui pembunuh anaknya secara langsung. Di depan Achilles, Raja Priam bersujud sambil menangis. Sebagai seorang ayah, dia memohon belas kasih Achilles agar bisa membawa jenazah putranya agar bisa memberi penghormatan akhir yang layak pada Pangeran Troya.

Dalam Epos Perang Troya, seaungguhnya ada bagian lain yang tidak kalah emosional, yaitu pertarungan antara Achilles dan Penthesilea. Bahkan, inilah mungkin bagian yang paling tragis dan puitis.

Dikisahkan, setelah mendengar kematian Hector, Penthesilea, Ratu bangsa Amazon yang tangguh, datang ke Troya membawa pasukan prajurit wanitnya. Ia datang tidak hanya untuk membantu Raja Priam membela kota Troya dari serbuan bangsa Yunani, tetapi juga untuk mencari kematian yang terhormat di medan perang demi menebus rasa bersalahnya karena secara tidak sengaja telah membunuh saudarinya sendiri, Hippolyta, saat berburu.

Di medan perang, Penthesilea bertarung bagaikan badai. Ia memorak-porandakan barisan tentara Yunani dan membunuh banyak prajurit pilihan. Kehebatannya memaksa Achilles turun langsung ke garis depan.

Ketika Penthesilea berhadapan dengan Achilles, terjadi duel yang sangat sengit. Meskipun Penthesilea bertarung dengan keberanian luar biasa, keperkasaan Achilles yang nyaris tak tertandingi akhirnya mengungguli sang Ratu Amazon. Achilles berhasil menembus dada Penthesilea dengan tombaknya, menjatuhkannya dari kuda dan membuatnya terluka parah.

Saat Penthesilea terbaring sekarat di tanah, Achilles melangkah mendekat dan melepaskan helm perunggu musuhnya untuk melihat siapa pahlawan hebat yang baru saja ia kalahkan.

Pada momen itulah tragedi sebenarnya terjadi. Ketika helm terlepas, Achilles tertegun melihat kecantikan Penthesilea yang luar biasa serta keberanian yang terpancar dari wajah sang Ratu di detik-detik terakhir hidupnya. Achilles seketika jatuh cinta pada Penthesilea, tepat pada saat ketika nyawa sang Ratu meninggalkan jasadnya. 

Diliputi rasa penyesalan dan duka yang mendalam, Achilles berdiri meratapi musuh yang baru saja ia bunuh. Begitu dukanya Achilles terhadap kematian Penthesilea serta rasa cintanya hingga ketika seorang prajurit Yunani mengejeknya sebagai laki-laki berhati lemah, Achilles memukulnya dengan sangat keras hingga si prajurit tewas di tempat.

Sebagai bentuk rasa cinta dan hormat mendalam kepada Penthesilea, Achilles menolak membiarkan tubuh sang Ratu yang menggugah perasaan cintanya dirusak. Ia mengembalikan jenazah Penthesilea kepada bangsa Troya dengan penuh penghormatan agar dapat dimakamkan secara layak melalui upacara pembakaran jenazah bangsawan, seperti sebelumnya dia juga menyerahkan jenazah Hector kepada Raja Priam.

***

Tragedi Achilles dan Penthesilea bukan sekadar dongeng perang kuno dari masa Yunani Klasik, melainkan cermin purba yang memantulkan keburukan sifat manusia yang terus berulang hingga hari ini. Di atas debu medan perang Troya, terjadi sebuah ironi kemanusiaan yang paling menyayat hati. Achilles membunuh satu-satunya sosok yang paling layak ia cintai dan kagumi, hanya karena didorong oleh ketidaktahuan serta emosi sesaat.

Kisah ini membawa pelajaran mendalam tentang betapa berbahayanya mengambil keputusan cepat saat amarah sedang membakar dada. Di balik zirah perunggu dan julukan pahlawan tak tertandingi, Achilles melangkah ke medan laga dengan mata yang dibutakan oleh amarah perang. Ia tidak tahu siapa sosok di balik helm besi musuhnya. 

Tragisnya, kita sering kali berlaku seperti Achilles: menghancurkan, menghakimi, membunuh karakter dan potensi orang lain tanpa pernah benar-benar mengenal siapa mereka. Kita terseret arus permusuhan yang bahkan alasan mendasarnya tidak kita pahami. Kita memusuhi seseorang semata-mata karena kelompok kita sedang berselisih dengan orang tersebut, atau sekadar menjadi korban dari disinformasi yang melegitimasi kebencian.

Ketika amarah mereda dan akal sehat kembali merayap masuk, penyesalan selalu datang terlambat. Momen ketika Achilles membuka helm Penthesilea dan mendapati keindahan serta keberanian luar biasa dari sosok yang baru saja ia bunuh adalah analogi dari momen "kesadaran" yang menyakitkan. Ada harga mahal yang harus dibayar ketika kita baru menyadari kualitas sejati seseorang justru setelah kita menghancurkannya.

Ada sebuah pepatah, "great power comes great responsibility". Semakin besar kekuatan, pengaruh, atau posisi yang kita miliki, semakin besar pula tanggung jawab dan konsekuensi dari setiap keputusan yang kita buat. Jika kekuatan dan kekuasaan yang besar di-drive oleh kemarahan dan ketidaktahuan, maka produk akhirnya bukanlah kemenangan, melainkan kehancuran yang menyisakan penyesalan dan kepedihan mendalam.

Kisah Achilles dan Penthesilea adalah pelajaran bagi kita semua. Jangan biarkan emosi sesaat dan kebencian buta mengendalikan diri kita. Sebab, jika kita menjalankan kekuatan tanpa kebijaksanaan, pada akhirnya kita hanya akan terduduk menangis meratapi penyesalan di depan "jenazah" dari keputusan salah yang kita ciptakan sendiri.[]

Ahmad Zainul Hamdi (Kepala Pusat Strategi Kebijakan Pendidikan Agama dan Keagamaan)

Editor: Moh Khoeron

Fotografer: Istimewa