Jakarta - Bagaimana sebuah peradaban lahir? Ada ahli yang menjelaskan bahwa penemuan teknologi menjadi faktor penentu bagi lahirnya sebuah peradaban. Ini misalnya bisa dilihat pada lahirnya peradaban kota yang didahului dengan penemuan mesin uap yang akhirnya melahirkan spesialisasi teknis dan mengubah desa agraris menjadi peradaban urban. Ahli yang lain menerangkan bahwa peradaban lahir dari kemampuan sekelompok masyarakat dalam menaklukkan dan merebut sebuah wilayah. Mereka mendirikan dinasti dan membangun imperium kekuasaan. Dari sini, lahirlah sebuah peradaban. Peradaban Romawi dan Persia adalah contoh dari peradaban lahir dari perebutan dan penaklukan.
Dari perspektif ini, lahirnya Rasul Muhammad yang menjadi cikal bakal kelahiran peradaban Islam adalah sebuah paradoks. Siapa yang sanggup membayangkan bahwa di atas hamparan pasir Makkah akan terlahir seseorang yang sikap, ucapan, dan tindak-tanduknya adalah tapak awal dari sebuah bangunan peradaban agung dunia.
Jazirah Arab adalah tanah yang keras dan kejam. Gurun pasirnya membentang nyaris tanpa batas. Mataharinya menyengat apa saja yang ada di bawahnya. Panasnya menyebar bersama hembusan angin gurun yang menghamburkan debu. Sengatannya sanggup mengubah batu putih menjadi hitam. Di sana, kehidupan berjalan dalam bayang-bayang ketakutan akan kecamuknya perang antarsuku yang bisa meletus kapan saja. Di sana, kebodohan mengakar hingga ke jantung kehidupannya. Tidak ada istana megah. Tidak ada akademi ilmu pengetahuan. Siapa yang sanggup membayangkan bahwa dari tanah seperti itu akan lahir sebuah sejarah gemilang?
inilah yang hendak saya kisahkan di sini. Di tengah kebodohan dan kesunyian gurun yang tandus serta gunung batu-batu hitam itulah bayi Muhammad lahir dalam pelukan kesengsaraan. Ia lahir sebagai seorang yatim. Sang ayah, Abdullah, telah berpulang sebelum matanya sempat menatap dunia. Belum sempat ia merasakan kehangatan pelukan seorang ibu secara utuh, takdir kembali merenggutnya dalam kepiatuan saat ia masih sangat belia. Hidupnya dimulai tanpa sandaran materi, tanpa mahkota kekuasaan, dan tanpa jaminan kemudahan. Namun, di sinilah letak paradoks paling agung yang menggetarkan jiwa: kemegahan terbesar kerap kali tersembunyi di balik kerapuhan yang paling dalam.
Allah tidak memilih singgasana Kaisar Romawi yang bertabur emas atau Istana Persia yang megah untuk menitiskan rahmat-Nya bagi semesta. Ia justru memilih rahim kesepian, tanah yang gersang, dan seorang anak manusia yang akrab dengan kepedihan. Seolah-olah semesta ingin berpesan bahwa cahaya sejati tidak membutuhkan kemewahan duniawi untuk bisa bersinar. Cahaya itu justru lahir untuk merobek kegelapan tepat dari tempat di mana asa dianggap telah mati.
Dari lorong-lorong kesengsaraan itu, sang Anak Padang Pasir itu tumbuh menjadi mercusuar kemanusiaan. Beliau membawa risalah yang tidak hanya meruntuhkan berhala-berhala batu di sekitar Ka'bah, tetapi juga berhala kesombongan di dalam dada manusia. Bayangkan sebuah transformasi yang terasa mustahil. Bangsa yang tadinya terbiasa saling membantai hanya karena dendam suku, perlahan-lahan disulap menjadi masyarakat yang menjunjung tinggi keadilan, memeluk kaum dhuafa, dan mencintai ilmu pengetahuan. Dari debu gurun yang diterpa angin panas, lahirlah sebuah peradaban yang kelak menjadi taman sari ilmu, seni, dan kebijaksanaan yang menerangi dunia berabad-abad lamanya.
Kisah ini menampar jiwa kita yang sering kali mengeluh ketika dihadapkan pada keterbatasan. Kita kerap merasa bahwa kesusahan hidup, latar belakang yang sulit, atau ketiadaan dukungan adalah akhir dari segalanya. Padahal, padang pasir yang paling gersang sekalipun menyimpan mata air di perutnya yang paling dalam. Lahir dari kesengsaraan bukan berarti mati dalam penderitaan. Sebab, Rasul Muhammad telah memberi teladan bahwa air mata kepedihan dapat diubah menjadi tinta sejarah yang menuliskan kebangkitan sebuah peradaban.
Inilah paradoks Maulid Nabi Muhammad. Di tengah dunia yang hanya mengenal hukum rimba, di mana dendam dibayar darah, dan nyawa manusia ditakar dari seberapa kuat sukunya, Nabi Muhammad memperkenalkan kesadaran yang asing sekaligus agung, yaitu kesadaran tentang harkat dan kemanusiaan yang seutuhnya.
Ia memulai segalanya dari sebuah titik bernama "bukan siapa-siapa". Tanpa harta yang melimpah, tanpa pasukan bersenjata, dan tanpa mahkota kekuasaan. Ia melangkah ke hadapan dunia ketika hampir siapapun saat itu meyakini bahwa apa yang dibawanya adalah sebuah kemustahilan mutlak. Bagaimana mungkin mengubah masyarakat padang pasir yang keras kepala hanya dengan seruan moral?
Namun, di sinilah letak mukjizat jiwa yang sesungguhnya. Berbekal keteguhan yang tak pernah surut, kesabaran seluas samudra, dan tindakan nyata yang konsisten, ia merajut asa di atas tanah yang tandus. Debu-debu padang pasir dan batu-batu hitam pegunungan Arab disentuhnya bukan untuk dihancurkan, melainkan ditenun perlahan hingga menjelma menjadi rahim peradaban yang melahirkan kemanusiaan yang agung.
Ingin tahu rahasia yang menggetarkan hati tentang bagaimana peradaban lahir dari padang pasir yang tandus? Rahasia itu terletak pada bagaimana ia memperlakukan sesama manusia, bahkan mereka yang memusuhinya dengan kejam. Ia tidak pernah berputus asa, bahkan kepada musuh terberatnya sekalipun. Dalam hatinya tersimpan sebuah keyakinan yang penuh belas kasih: jika hari ini musuh itu belum bisa menerima, boleh jadi keturunannya kelak yang akan membuka hati, menerima cahaya ilahi, dan menjadi penerus risalah peradaban ini.
Ia sangat yakin, apa yang diwartakan bukanlah ajaran asing yang memberatkan atau mengingkari fitrah manusia. Sebaliknya, Islam hadir sebagai pelukan hangat bagi akal sehat dan hati nurani. Apa yang ia tawarkan kepada dunia bukanlah sekadar dogma atau aturan ritual semata. Yang ia tawarkan dan perjuangkan hingga titik darah penghabisan adalah kemanusiaan itu sendiri.
Mari sejenak saya ajak ziarah ke Jazirah Arab di awal abad ke-7 mengikuti perjalanan Nabi Muhammad ke Kota Thaif. Setelah kematian dua pelindung utamanya, sang Paman Abu Thalib dan sang Istri Khadijah, eskalasi intimidasi kaum kafir Quraisy Makkah ke Nabi semakin meningkat tak tertahankan. Nabi Muhammad memutuskan berangkat ke Thaif, berharap bahwa penduduk Thaif lebih bisa mendengar seruannya.
Di atas jalanan berdebu menuju Thaif, langkah seorang utusan Allah tertatih dalam perih. Setelah berhari-hari menempuh perjalanan, alih-alih mendapatkan tempat untuk berteduh dan mendengar seruan kasih, ia justru disambut dengan caci maki. Penduduk Thaif melempari tubuhnya dengan batu hingga darah mengalir membasahi terompahnya, sementara anak-anak kecil dan para budak dikerahkan untuk meneriaki dan mengusirnya keluar kota.
Hingga, ia terduduk di bawah pohon kurma. Tubuhnya remuk dan jiwanya berdarah. Malaikat menemuinya dengan amarah yang menyala dan menawarkan untuk meratakan Kota Thaif itu dengan dua gunung yang mengapitnya. Namun, apa yang keluar dari bibir manusia yang sedang dizalimi itu? Bukan doa kehancuran, melainkan sebuah permohonan penuh air mata: "Jangan, wahai Malaikat. Aku berharap Allah melahirkan dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah Subhanahu wa Ta'ala." Hatinya menolak dendam, sebab ia melihat masa depan kemanusiaan jauh melampaui luka yang sedang ia rasakan hari itu.
Keluasan jiwa itu tidak berhenti di lembah Thaif. Tengoklah bagaimana ia memperlakukan keluarga Abu Jahal, musuh terkejam yang sepanjang hidupnya mendedikasikan diri untuk memadamkan cahaya Islam dan menyiksanya serta para pengikutnya. Ketika Makkah akhirnya ditaklukkan dan Ikrimah putra kandung Abu Jahal melarikan diri dalam ketakutan karena merasa dosanya terlalu besar untuk diampuni, Nabi justru menyambutnya dengan tangan terbuka lebar saat dia datang dan menyatakan keislamannya. Beliau melarang para sahabat mencaci maki sang ayah di depan Ikrimah. Darah musuh bebuyutan dilebur dalam dekapan persaudaraan.
Inilah rahasia fondasi peradaban Islam yang dibawa Nabi Muhammad. Ia tidak menaklukkan kota, tetapi menaklukkan hati manusia. Musuh-musuh yang tadinya menghunus pedang untuk membunuhnya, pada akhirnya berbalik menjadi pilar-pilar kokoh yang menegakkan peradaban Islam. Dari debu padang pasir dan luka-luka penganiayaan, ia membuktikan bahwa dendam hanya akan memperpanjang kegelapan, tetapi pengampunan dan kemanusiaan adalah rahim sejati yang melahirkan sebuah peradaban.
Prof. Dr. Ahmad Zainul Hamdi, M.Ag (Ahmad Inung)
Penulis adalah Kepala Pusat Strategi Kebijakan Pendidikan Agama dan Keagamaan, Kemenag RI.
Artikel ini adalah kiriman pembaca detik.com. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terimakasih - Redaksi)
- Log in to post comments
