Ahmad Inung
Ada satu jebakan paling halus yang sering kali menjerat kita sebagai manusia: keengganan untuk mengakui bahwa kita telah berbuat salah.
Di dunia yang makin bising ini, kita menyaksikan begitu banyak orang yang sibuk merangkai alasan, mencari pembenaran, dan membangun benteng retorika hanya demi melindungi kesalahannya. Padahal, menutup-nutupi keburukan tidak pernah membuat keburukan itu berubah menjadi kebaikan.
Kita bukanlah malaikat yang tercipta tanpa celadan steril dari dosa. Siapa pun kita, bergelar apapun, dengan pakaian keagamaan yang tampak begitu suci, atau dengan posisi sosial yang dihormati banyak orang, sifat dasar kita tetaplah sama: lemah dan berpotensi melakukan kesalahan. Sifat ma’shum (terjaga dari dosa) hanya milik para Nabi dan Rasul. Mereka disucikan oleh Sang Pencipta untuk membawa risalah.
Sementara kita? Kita hanyalah manusia biasa yang setiap hari berjalan di atas garis tipis antara kebaikan dan kekhilafan. Berbuat salah tidak serta-merta merenggut kemanusiaan kita. Justru, menyadari kesalahan adalah bukti paling nyata bahwa hati kita masih hidup.
Saat kita melakukan kesalahan, jalan untuk kembali selalu terbuka lebar. Kesempatan untik memperbaiki diri tidak pernah terkunci. Namun, pintu itu hanya memiliki satu gagang untuk dibuka: pengakuan.
Kita hanya bisa pulang jika kita tahu kita sedang tersesat. Kesalahan baru bisa diperbaiki jika kita berani menyebutnya sebagai kesalahan. Kebejatan baru bisa dihentikan jika kita tidak malu menyebutnya sebagai kebejatan.
Saat seseorang jatuh, lalu ia menundukkan kepala dan berkata, "Aku telah salah, aku telah melampaui batas," di situlah titik balik dimulai. Pengakuan salah bukanlah tanda kelemahan, melainkan keberanian selaligus kerendahan hati.
Namun, bahaya terbesar bukanlah saat kita jatuh ke dalam kesalahan. Bahaya terbesar adalah ketika kita mulai membenarkan kesalahan itu.
Ketika nurani dibungkam oleh kesombongan, kita mulai mencari-cari alibi. Kita memoles keburukan dengan istilah-istilah yang indah. Kita membawa-bawa gelar, status, atau jubah integritas untuk membela kekeliruan yang terang-benderang.
Di sinilah bencana yang sesungguhnya terjadi. Saat kesalahan dibenarkan, hati perlahan membatu. Kita kehilangan rasa bersalah, dan dengan itu, kita kehilangan alasan untuk berbenah.
Itulah no point of return, yaitu titik di mana seseorang telah berjalan terlalu jauh hingga tak lagi bisa melihat jalan untuk kembali. Bukan karena jalannya tertutup, tetapi karena matanya sendiri yang memilih untuk buta.
Jangan biarkan ego memenjarakan diri kita dalam kepalsuan. Tidak ada hinanya menjadi manusia yang pernah salah, sebab yang hina adalah mereka yang bertahan dalam kesalahan sambil berpura-pura menjadi suci.
Lepaskanlah pakaian kesombongan itu. Akui jika kita keliru, minta maaf jika kita merugikan, dan perbaiki jika kita merusak. Sebab pada akhirnya, kembali menjadi manusia yang tahu diri jauh lebih mulia daripada terus bersolek di balik topeng kesempurnaan yang semu.[]
Riki - PUSAT MEDIA DAN PROMOSI
©2026 IAIN Kerinci
- Log in to post comments
