IAIN Kerinci Menulis Ulang Masa Depan: Kurikulum Baru untuk Dunia yang Sedang Berubah

Kurikulum Baru IAIN Kerinci

Sungai Penuh (07/10/2025) - Ada yang berbeda di IAIN Kerinci. Di tengah suasana pegunungan yang tenang, kampus ini sedang bergerak cepat — menulis ulang arah pendidikannya.

Selama puluhan tahun, perguruan tinggi keagamaan dikenal kuat dalam tradisi dan nilai. Namun kini, IAIN Kerinci menambahkan satu kata kunci baru: relevansi. Relevansi dengan dunia kerja, teknologi, dan realitas sosial yang sedang berubah di bawah bayang-bayang kecerdasan buatan (AI).

Kami baru memulai, dan tahun depan kurikulum baru ini diharapkan sudah bisa kita implementasikan,” ujar Rektor IAIN Kerinci, Dr. Jafar Ahmad, S.Ag., M.Si. “Fokusnya bukan hanya pada transfer ilmu, tapi pada pembentukan kompetensi hidup, bekerja, dan berkompetisi di dunia yang kini tengah bertransformasi oleh AI.”

Kurikulum baru ini lahir dari pandangan bahwa mahasiswa tidak boleh hanya menjadi penerima pengetahuan, tetapi pencipta nilai baru. Proses belajar diarahkan untuk melatih cara berpikir ilmiah, kemampuan riset, keterampilan teknologi, dan kepekaan sosial.

Rektor menggambarkan profil lulusan yang diinginkan dengan sederhana: “Kami ingin lulusan yang bisa berpikir kritis seperti peneliti, bekerja lincah seperti profesional, dan berjiwa arif seperti ulama.”

Itulah wajah baru mahasiswa IAIN Kerinci kelak — tidak hanya fasih berbicara tentang ayat dan hukum, tetapi juga mampu membaca data, menulis analisis, membuat inovasi, dan memimpin perubahan di masyarakat.

Di kelas-kelas baru nanti, AI akan menjadi teman diskusi, bukan pesaing. Dosen akan menjadi fasilitator yang membimbing mahasiswa menggali makna di balik informasi. Proyek lapangan, penelitian kolaboratif, dan kegiatan berbasis masyarakat menjadi bagian dari sistem belajar yang hidup dan kontekstual.

Transformasi ini menjadikan IAIN Kerinci bukan sekadar kampus yang mengajar, tetapi kampus yang mendidik manusia utuh — berpikir tajam, bekerja cerdas, dan berjiwa luhur.

Dari lereng Gunung Kerinci, langkah kecil itu kini dimulai. Tapi gema perubahannya terdengar jauh: sebuah kampus agama yang berani menatap masa depan dengan ilmu dan keyakinan yang menyatu. (red)