Menteri Agama Diberi Gelar Adat Kerajaan Luwu: Tanda Kebangkitan Kebudayaan, Agama, dan Negara

Menteri Agama Diberi Gelar Adat Kerajaan Luwu: Tanda Kebangkitan Kebudayaan, Agama, dan Negara

LUWU, IAIN Kerinci — Dalam sebuah upacara adat yang berjalan serius dan bermakna, Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Nassarudin Umar, M.A., secara resmi dianugerahi gelar adat oleh Kerajaan Luwu. Acara tersebut berlangsung pada Jumat (03/10), dan menjadi momen sejarah yang bukan hanya menguatkan nilai budaya, tetapi juga memperkuat kerja sama antara agama, negara, dan adat dalam kehidupan bermasyarakat.

Dalam pidatonya, Prof. Nassarudin Umar menyampaikan bahwa adat, agama, dan negara bukanlah sesuatu yang bertolak belakang, melainkan menjadi kekuatan yang bisa bekerja sama dalam membangun bangsa yang beradab dan beretika. Ia juga meminta seluruh hadirin untuk berdoa bersama, menunjukkan pentingnya momen pertemuan antara nilai spiritual dan kearifan lokal.

Upacara ini dihadiri oleh Raja dan Ratu Luwu, para tokoh adat, serta 17 rektor dari berbagai universitas di Indonesia.
Kehadiran para akademisi menunjukkan bahwa penganugerahan gelar adat bukan sekadar peristiwa budaya, tetapi juga memiliki kedalaman intelektual dan akademik yang kuat.

Rektor IAIN Kerinci, Dr. Jafar Ahmad, S.Ag., M.Si., yang hadir langsung dalam upacara tersebut, memberikan apresiasi yang mendalam. Menurutnya, penganugerahan gelar adat ini adalah contoh yang baik bagi dunia akademik. 

“Sebagai bagian dari komunitas akademik, kami melihat penganugerahan ini bukan hanya hormat kepada tokoh bangsa, tetapi juga pembelajaran etika bagi generasi muda. Kita harus mengajarkan integritas, dedikasi, dan pelayanan kepada umat sebagai nilai dasar yang diberikan kepada mahasiswa dan masyarakat,” ujarnya.

Dr. Jafar Ahmad juga menekankan bahwa IAIN Kerinci, sebagai Institut Agama Islam negeri, akan terus mendukung gagasan sinergi antara adat, agama, dan negara melalui berbagai kegiatan akademik, penelitian, serta pelayanan masyarakat. Menurutnya, penganugerahan gelar adat ini sesuai dengan visi moderasi beragama yang menjadi salah satu fokus pengembangan pendidikan tinggi Islam di Indonesia.

Kerajaan Luwu, setelah melakukan pertimbangan yang matang, menilai Prof. Nassarudin Umar pantas memperoleh gelar adat karena kepemimpinannya dianggap bersih, bebas dari praktik korupsi, serta konsisten memperjuangkan moderasi beragama dan harmoni sosial. Dari sudut pandang akademis, penghargaan ini bisa diartikan sebagai pengakuan sosial-budaya terhadap figur kepemimpinan yang menggabungkan nilai kearifan lokal dengan prinsip pemerintahan yang baik.

Dengan demikian, penganugerahan gelar adat kepada Menteri Agama bukan hanya bentuk penghormatan pribadi, tetapi juga simbol bahwa adat, agama, dan negara bisa saling mendukung dalam menjaga moralitas, budaya, dan kehidupan masyarakat. Bagi IAIN Kerinci, momen ini menjadi pengingat bahwa pendidikan tinggi Islam harus menjadi jembatan yang memperkuat nilai-nilai tersebut, sehingga menghasilkan generasi yang memiliki karakter, wawasan global, tetapi tetap memegang teguh kearifan lokal.

 

RIKI - PUSAT MEDIA DAN PROMOSI ©2025 IAIN KERINCI