SUNGAI PENUH, IAIN Kerinci — Rektor IAIN Kerinci, Dr. Jafar Ahmad, S.Ag., M.Si., mengimbau masyarakat untuk lebih cermat dan bertanggung jawab dalam menyikapi arus informasi di media sosial, terutama terhadap konten yang belum terverifikasi, Kamis, (30/4). Seruan ini mengemuka di tengah meningkatnya penyebaran potongan video dan narasi yang menyesatkan, termasuk isu viral terkait dugaan larangan penyembelihan hewan kurban oleh Menteri Agama yang belakangan dipastikan tidak benar.
Menurut Jafar, fenomena tersebut mencerminkan rendahnya kehati-hatian sebagian pengguna media sosial dalam menerima dan menyebarkan informasi. Ia menegaskan pentingnya prinsip tabayyun atau klarifikasi sebagai langkah awal sebelum mempercayai suatu kabar.
“Media sosial harus dimanfaatkan secara cerdas dan proporsional. Verifikasi menjadi kunci agar masyarakat tidak terjebak dalam arus hoaks yang berpotensi memicu keresahan publik,” ujarnya.
Kementerian Agama sebelumnya telah memberikan klarifikasi resmi bahwa narasi yang beredar merupakan hasil pemotongan pernyataan yang keluar dari konteks utuh. Distorsi informasi semacam ini, lanjut Jafar, tidak hanya menyesatkan persepsi publik, tetapi juga berisiko merusak kepercayaan terhadap institusi dan tokoh publik.
Dalam konteks yang lebih luas, ia menilai bahwa literasi digital kini bukan lagi sekadar keterampilan tambahan, melainkan kebutuhan mendasar di era keterbukaan informasi. Kemampuan memilah, memahami, dan mengevaluasi informasi menjadi fondasi penting untuk menjaga kualitas ruang publik digital. Tanpa itu, masyarakat rentan terpolarisasi oleh informasi yang tidak akurat.
Jafar juga mengingatkan bahwa penyebaran hoaks memiliki dampak sistemik, mulai dari memicu kesalahpahaman hingga mengganggu stabilitas sosial dan kerukunan antarumat. Oleh karena itu, ia mendorong peran aktif seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda dan civitas akademika, untuk menjadi garda depan dalam membangun ekosistem digital yang sehat.
“Media sosial seharusnya menjadi ruang produktif untuk edukasi, dakwah, dan pertukaran gagasan yang konstruktif. Bukan sebaliknya, menjadi medium penyebaran fitnah dan provokasi,” tegasnya.
Imbauan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kecepatan arus informasi harus diimbangi dengan kedewasaan dalam mengelola dan memverifikasi konten. Di tengah lanskap digital yang kian kompleks, ketelitian individu menjadi benteng utama dalam menjaga kohesi sosial dan kualitas demokrasi informasi.
Riki - PUSAT MEDIA DAN PROMOSI
©2026 IAIN Kerinci
- Log in to post comments
